Aku tinggal di Depok, salah satu kota besar di Indonesia.
Kawan, kau tahu ciri-ciri kota besar? Ya, penuh polusi dan asap. Aku pun
terbiasa dengan kondisi seperti itu. Namun kini aku tinggal di tempat yang
lebih kurang polusi. Aku tinggal di suatu tempat di Bogor karena keperluan
pendidikan. Di sana aku bertemu banyak teman dengan latar belakang dan karakter
yang berbeda-beda.
Pada suatu hari, aku diharuskan pergi ke @america di Pacific
Place yang berada di Jakarta. Aku menaiki bis. Ah, Jakarta, Ibukotaku… akhirnya
aku akan kembali lagi ke kota tersebut. Aku duduk sendiri, bangku di sebelahku
kosong. Namun, di tengah perjalanan, seorang kawanku duduk di sebelahku. Aku
sering memanggilnya Mamun.
“Kita nanti ke Jakarta, ya?” katanya. Well, aku dapat
maklum. Ia belum pernah ke Jakarta sebelumnya. Bahkan dari perbincangan kami
sebelumnya, ia belum pernah makan es krim (yang diiklanin di tv) and he even
doesn’t have any idea tentang apa itu bioskop.
Oke, back to the bus. Bis yang kami tumpangi memasuki
Jakarta. Gedung-gedung tinggi mulai terlihat. Setelah beberapa lama, Mamun
kembali berkomentar, “Kok polusinya banyak ya?”
Aku melihat ke jendela dan aku terdiam. Ia benar. “Beginilah,
Mun, kondisi Ibukota kita. Coba kau cari matahari sekarang,” kataku.
Ia melihat keluar bis melewati jendela, aku juga turut
mencari matahari. Tidak ada. Mendung. Berkabut. Tidak, bukan kabut, ini asap. “Kota
ini berkabut ya?” kataku.
“Ini asap ya?”
Aku mengangguk, ia menggeleng.
“Lebih enak tinggal di kampung,” katanya. “Serius, Jib,
mungkin aku bakal sesak nafas di sini.”
“Entahlah,” jawabku. “Memang sumpek. Tapi aku pernah ke sini
dan setidaknya aku masih hidup.”
Mobil masih berjalan. Mamun melihat gedung-gedung tinggi di
luar. “Kau lihat, Mun? Gedung-gedung ini mencakar langit. Tinggi ke atas, namun
juga rendah ke bawah. Ya, fondasinya. Menghujam perut Ibukota.”
Ia hanya manggut-manggut.
Aku kembali berpikir. Ia benar. Kota ini adalah pusat. Kota
ini Ibukota. Memang miris jika banyak orang kampung yang mau ke kota. Kawanku
di sebelah ini malah lebih memilih tinggal di kampung daripada harus tinggal di
kota.
“Inilah ironi,” lanjutku. “Jakarta, kota yang dicinta, kota
yang didamba. Kota modern mereka bilang, tetapi di kota yang didamba ini, awan
telah terganti asap.”
Mamun terdiam sejenak. Selanjutnya, ia bertanya. Pertanyaan
umum, namun ini yang mesti kita pikirkan. Ia bertanya, “Apakah Jakarta masih
bisa diselamatkan?”
Itulah, pertanyaan kecil yang harus direnungkan.
(gambar bersumber dari google images)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar