Manusia itu makhluk yang aneh. Saat kecil, ia ingin
cepat-cepat menjadi besar. Saat besar, ia rindu untuk menjadi kecil kembali.
Sangat menggelikan. Aku manusia dan aku mengalaminya. Ya, aku menggelikan.
Manusia itu makhluk yang aneh. Saat ada sesuatu di
dekatnya, ia diam. Tetapi saat sesuatu itu menjauh, sang manusia malah ingin
mendapatkannya. Sangat aneh.
Sebuah Percakapan dengan Seorang Teman
Masalah hanyalah sebuah masalah. Tetapi aku
merenungkannya, aku memikirkannya. Lucu. Masalah itu lucu. Saat ada sesuatu di
dekatku, aku diam. Tetapi saat sesuatu itu menjauh, aku malah ingin mengejarnya.
Sangat aneh.
Namanya Lucky. Suatu hari aku mengungkapkan sebuah
pernyataan kepadanya, “Hidup itu aneh. Saat ada sesuatu di dekatnya, kita hanya
diam. Tetapi saat sesuatu itu menjauh, kita seakan ingin mengejarnya.”
“Itu seperti cinta,” balasnya. “Saat ada seseorang
yang dekat dengan kita, kita jual mahal. Tetapi saat orang itu menjauh, kita
termenung, ingin mendapatkannya.”
Aku terdiam. Ia mengibaratkan pernyataanku bagaikan
kisah asmara. Aku tertawa dalam hati, ia tidak menyadari bahwa itulah yang aku
maksudkan.
“Seperti kupu-kupu,” lanjutnya lagi. “Saat kupu-kupu
itu ada, kita hanya diam. Tetapi saat ia sudah pergi, mustahil bagi kita
mengejarnya.”
Aku mengangguk. Inilah manusia dengan segala
keunikannya. Kami membicarakan sesuatu yang absurd dan tidak jelas, namun aku
tetap saja ingin melanjutkan pembicaraan itu.
Aku belajar, bahwa setiap manusia itu berbeda namun
serupa. Aku belajar, manusia memiliki kemiripan antara satu Homo sapiens dengan Homo sapiens yang lain. Statement
yang kuberikan di awal kepada Lucky merupakan sebuah curahan tentang perasaan.
Entah bagaimana, ia mengetahuinya, tanpa langsung mengatakannya.
Dan aku kembali terdiam. Aku tersadar. Manusia itu
aneh. Manusia itu lucu. Bahkan manusia pun menertawakan dirinya sendiri. Aku,
sekarang, sedang menghina manusia. Menghina diriku sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar