Jumat, 19 Oktober 2012

Manusia, Keanehan, dan Sebuah Curahan

Hidup ini lucu. Aku terkadang tertawa saat merenungkan diriku sendiri. Mengapa hidup ini lucu? Penyebabnya ialah manusia itu sendiri.

Manusia itu makhluk yang aneh. Saat kecil, ia ingin cepat-cepat menjadi besar. Saat besar, ia rindu untuk menjadi kecil kembali. Sangat menggelikan. Aku manusia dan aku mengalaminya. Ya, aku menggelikan.
Manusia itu makhluk yang aneh. Saat ada sesuatu di dekatnya, ia diam. Tetapi saat sesuatu itu menjauh, sang manusia malah ingin mendapatkannya. Sangat aneh.


Sebuah Percakapan dengan Seorang Teman

Masalah hanyalah sebuah masalah. Tetapi aku merenungkannya, aku memikirkannya. Lucu. Masalah itu lucu. Saat ada sesuatu di dekatku, aku diam. Tetapi saat sesuatu itu menjauh, aku malah ingin mengejarnya. Sangat aneh.

Namanya Lucky. Suatu hari aku mengungkapkan sebuah pernyataan kepadanya, “Hidup itu aneh. Saat ada sesuatu di dekatnya, kita hanya diam. Tetapi saat sesuatu itu menjauh, kita seakan ingin mengejarnya.”
“Itu seperti cinta,” balasnya. “Saat ada seseorang yang dekat dengan kita, kita jual mahal. Tetapi saat orang itu menjauh, kita termenung, ingin mendapatkannya.”

Aku terdiam. Ia mengibaratkan pernyataanku bagaikan kisah asmara. Aku tertawa dalam hati, ia tidak menyadari bahwa itulah yang aku maksudkan.

“Seperti kupu-kupu,” lanjutnya lagi. “Saat kupu-kupu itu ada, kita hanya diam. Tetapi saat ia sudah pergi, mustahil bagi kita mengejarnya.”

Aku mengangguk. Inilah manusia dengan segala keunikannya. Kami membicarakan sesuatu yang absurd dan tidak jelas, namun aku tetap saja ingin melanjutkan pembicaraan itu.

Aku belajar, bahwa setiap manusia itu berbeda namun serupa. Aku belajar, manusia memiliki kemiripan antara satu Homo sapiens dengan Homo sapiens yang lain. Statement yang kuberikan di awal kepada Lucky merupakan sebuah curahan tentang perasaan. Entah bagaimana, ia mengetahuinya, tanpa langsung mengatakannya.

Dan aku kembali terdiam. Aku tersadar. Manusia itu aneh. Manusia itu lucu. Bahkan manusia pun menertawakan dirinya sendiri. Aku, sekarang, sedang menghina manusia. Menghina diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar